Ketahuilah Jenis Penyakit Kelamin Ini

Ketahuilah Jenis Penyakit Kelamin Ini

Duniiakesehatan.com – Ketika Anda tertular infeksi genital, pasangan Anda mungkin terinfeksi, dan juga jika itu terjadi pada pasangan Anda. Mungkin kita sudah merasa ada yang salah dengan alat kelamin kita, tetapi kita merasa sangat baik.

Akhirnya, kami ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Terkadang, rasa malu juga mencegah kita mengunjungi dokter.

Bisakah Anda melakukannya, infeksi belum diobati. Lalu, apakah ada tanda-tanda masalah genital dan Anda harus menghubungi dokter?

Wanita dan pria memiliki tanda yang berbeda dan bervariasi. Kami akan mulai dengan mendiskusikannya dengan wanita. Inilah kritiknya.
Tanda masalah kelamin pada perempuan

Permasalah pada vagina sebenarnya tidak hanya terjadi karena infeksi, bisa juga karena siklus menstruasi, pil KB, atau perubahan setelah melahirkan. Ada beberapa beberapa gejala yang umum terjadi pada perempuan, tapi terkadang kita tidak menyadarinya. Berikut ini di antaranya:

Tanda masalah kelamin pada wanita

1. Keputihan vagina yang bau dan berwarna
Nah, ini menjadi salah satu gejala awal yang selalu terjadi pada permasalahan vagina. Keputihan yang bening dan tak berbau, adalah hal yang normal. Namun, cairan vagina yang berbau tak sedap dan warnanya kuning atau hijau adalah tidak normak.

Kepekatan cairan vagina biasanya terjadi saat ada perubahan pada siklus menstruasi. Namun keputihan yang putih tebal, dapat menjadi tanda dari infeksi jamur vagina. Ketika warnanya kuning atau hijau, bisa jadi menjadi salah satu gelaja gonore, klamidia, atau trikomoniasis. Tidak hanya itu saja, keputihan yang tidak normal bisa terjadi karena penggunaan obat tertentu. Kunjungi dokter untuk memastikan penyebabnya.

2. Nyeri saat buang air kecil
Apakah saat buang air kecil Anda merasa nyeri dan panas? Jika terjadi hal ini, Anda juga harus segera mengunjungi dokter. Anda juga perlu mewaspadai frekuensi buang air kecil yang terus menerus, atau jika Anda berdarah saat buang air kecil. Biasanya itu merupakan salah satu penyakit menular seksual.

3. Gatal di area vagina
Kemerahan, bengkak, gatal, dan nyeri merupakan gejala yang harus Anda waspadai juga. Penyebabnya mungkin bukan penyakit menular seksual, tapi bisa jadi beberapa hal seperti reaksi alergi terhadap kondom, infeksi jamur, atau bahkan kutu pubis. Tentunya, Anda perlu mengunjungi dokter untuk mendapat perawatan. Anda juga mesti berhati-hati saat menemukan luka atau bisul kecil di sekitar vagina, gejala tersebut bisa diindikasi sebagai herpes, HPV, atau sipilis.

4. Nyeri dan berdarah saat berhubungan seks
Mungkin Anda tidak bisa membedakan mana nyeri akibat kurang pelumas atau nyeri karena adanya penyakit tertentu. Saat Anda sudah menggunakan lubrikasi atau saat vagina Anda sudah merasa basah, tapi tetap sakit, bisa jadi tanda suatu penyakit.

Sakit biasanya juga dirasakan pada perut bagian bawah atau panggul. Jika itu terjadi, dikhawatirkan penyebabnya adalah klamidia dan gonore. Tentu penyakit tersebut harus mendapat perawatan dari dokter. Tak hanya penyakit itu saja, vagina kering dan nyeri saat berhubungan bisa merupakan gejala menopause.

Baca juga : Penyakit Kelamin Yang Sering Menyerang Mrs.V

Tanda masalah kelamin pada laki-laki

1. Adanya darah pada air mani
Saat Anda mengeluarkan air mani yang bercampur darah, tentu Anda akan merasa kaget dan takut. Memang, kondisi ini bisa diindikasikan sebagai gejala penyakit yang serius. Tapi ternyata, hematospernia alias darah pada air mani terkadang hal yang normal terjadi. Biasanya kondisi akan sembuh dengan sendirinya.

Untuk memastikannya Anda harus tetap berkonsultasi pada dokter, karena bisa saja merupakan gejala dari peradangan urethra atau prostat. Keduanya dapat disebabkan oleh cedera pada area genital dan infeksi menular seksual.

2. Peradangan penis
Iritasi dan peradangan bisa disebabkan oleh infeksi bisa disebabkan oleh infeksi. Hal ini bisa juga diindikasikan sebagai gejala balanitis. Bengkak dan kemerahan di sekitar kulup. Gejala lainnya dapat berupa rasa gatal. Tak jarang, bengkak yang menekan urethra dapat menyebabkan rasa nyeri ketika buang air kecil. Anda perlu mengunjungi dokter untuk mendapatkan antibiotik dan krim untuk mengatasi rasa gatal.

3. Cedera dan luka pada penis
Kondisi ini bisa disebabkan oleh kulit pada penis yang sensitif. Anda perlu berhati-hati jika cedera dan luka tersebut disertai dengan sensasi panas dan terbakar. Luka pada penis bisa berupa lecet atau cedera di dalam penis akibat benda yang dimasukkan pada urethra. Alergi karena penggunaan lotion dan krim juga bisa menjadi penyebab penis luka. Untuk mendapatkan perawatan yang tepat, segera kunjungi dokter.

4. Ereksi selama 4 jam
Penis ereksi lama meski Anda sudah tidak ingin berhubungan seks bisa jadi termasuk ke dalam kondisi priapismus. Jika ereksi berlangsung selama 4 jam lebih, Anda harus segera mengunjungi dokter, untuk mendapat penanganan. Kalau tidak ditangani dengan segera, Anda berisiko mengalami disfungsi ereksi di kemudian hari.

5. Penis bengkok
Gejala ini bisa merupakan gejala penyakit Peyronie. Gejala lainnya yang muncul dapat berupa adanya jaringan parut di bawah kulit penis. Jaringan ini dapat membuat rasa nyeri sehingga menyebabkan penis bengkok saat ereksi. Jika tidak ditangani dengan segera, Anda berisiko mengalami disfungsi ereksi.

Penyakit Kelamin Yang Sering Menyerang Mrs.V

Penyakit Kelamin Yang Sering Menyerang Mrs.V

Duniiakesehatan.com – infertilitas pada hampir 24.000 wanita setiap tahun. ini menunjukkan bahwa wanita juga rentan terhadap penyakit kelamin yang ditularkan melalui hubungan seksual. Apa saja penyakit kelamin yang sering melanda wanita?

Penyakit kelamin yang paling umum pada wanita dan cara untuk mencegahnya

1. Klamidia
Kasus klamidia dua kali lipat lebih banyak ditemukan pada wanita ketimbang pria. Klamidia disebabkan oleh infeksi bakteri yang bernama chlamydia trachomatis dan bisa ditularkan melalui hubungan seks. Parahnya lagi, klamidia bisa ditularkan lewat ibu dan ke bayinya yang baru lahir.

Penyakit kelamin pada wanita ini tidak langsung menimbulkan gejala, melainkan bisa muncul setelah beberapa minggu Anda terinfeksi pertama kali. Salah satu ciri-ciri klamidia adalah keluarnya cairan lewat vagina dan perdarahan berat saat menstruasi.

Jika Anda ingin membersihkan vagina, Anda bisa memilih pembersih vagina yang mengandung povidone-iodine. Pembersih kewanitaan yang mengandung povidone-iodine, bisa meningkatan bakteri baik pada vagina dan mencegah infeksi karena bakteri.

2. Gonore atau kencing nanah
Gonore adalah infeksi bakteri gonococcus yang dapat menular dari orang ke orang ketika Anda melakukan kontak seksual dengan orang yang terinfeksi, atau terpapar dengan cairan tubuh mereka.Biasanya ditemukan di cairan vagina dari orang yang terinfeksi. Maka itu, gonore juga dapat menular dari ibu kepada anak.

Gejala awalnya mungkin sangat ringan atau tidak begitu jelas sehingga sering keliru dianggap sebagai infeksi vagina atau infeksi saluran kemih. Gejala gonore yang sering muncul, baik pada pria maupun wanita, di antaranya adalah saat buang air kecil akan terasa sakit atau perih dan keluarnya cairan kental seperti nanah berwarna kuning atau hijau dari vagina atau penis.

Baca juga : Cara Menjaga Kebersihan Kelamin Pria Dan Wanita

Namun demikian, infeksi akan menjalar ke organ panggul wanita jika tidak segera diobati dan bisa menyebabkan perdarahan pada vagina, sakit pada perut bagian bawah, demam, dan sakit saat melakukan hubungan seksual.

3. Herpes genital
Herpes genital adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh virus herpes simpleks atau sering disebut HSV. Ini biasanya ditemukan ruam merah di sekitar mulut, anus dan kelamin pastinya. Terkadang kondisi penyakit kelamin pada wanita ini bisa menimbulkan rasa sakit atau gatal saat buang air.

4. Sifilis
Sama seperti klamidia, sipilis merupakan salah satu penyakit kelamin pada wanita yang gejalanya tidak terdeteksi. Diperlukan waktu hingga 90 hari bagi wanita untuk benar-benar terserang penyakit sifilis. Jika terdeteksi lebih awal, sifilis akan lebih mudah disembuhkan dan tidak akan menyebabkan kerusakan permanen. Namun, penyakit sipilis yang tidak diobati dapat mengakibatkan kerusakan serius pada otak atau sistem saraf serta organ lainnya, termasuk jantung.